Seni Sastra

Kategori: Tradisi, Bahasa, Mitos


Daftar Isi:  Cerita Rakyat  l  Syair  l  Saluka  l  Karang-Karangan


Hasil-hasil karya seni sastra lama yang terdapat di Kalimantan Timur, memiliki bentuk dan gaya bahasa lama yang sebagian besar bercerita tentang hal-hal yang berhubungan dengan kepercayaan terhadap alam gaib, keajaiban alam, permasalahan yang terjadi pada jaman kerajaan serta titisan Dewa-Dewi yang turun ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia dari kehancuran. Hasil karya semacam ini biasanya dipergunakan untuk menghibur sekaligus mendidik, yang sampaikan oleh orang tua kepada anaknya.

Cerita Rakyat

Cerita rakyat yang dimaksud adalah cerita-cerita berjenis mitos, legenda ataupun hikayat. Cerita mitos akan menghasilkan bermacam-macam kepercayaan yang sampai saat ini masih hidup di kalangan masyarakat yang diwujudkan dalam penyelenggaraan bermacam-macam upacara atau ritual adat. Cerita legenda akan menghasilkan bermacam-macam nama tempat, baik itu kota maupun daerah. Sedangkan cerita hikayat menggambarkan tentang peperangan, kepahlawanan ataupun kerajaan. Beberapa cerita rakyat yang terdapat di Propinsi Kalimantan Timur adalah sebagai berikut.

Ajalnya Bujang Sarinta

Salah satu cerita mitologi yang sangat terkenal di kalangan Suku Dayak Kenyah adalah cerita Bujang Sarinta, cerita ini seolah-olah terjadi dan nyata sehingga menjadi kepercayaan dan dianggap suci oleh masyarakat. Cerita ini sampai sekarang masih hidup dan berkembang di pedalaman Kalimantan Timur, terutama di sepanjang Sungai Kedang Kepala, daerah Kecamatan Muara Ancalong.

Konon diceritakan, hiduplah seekor buaya yang dipanggil dengan sebutan Bujang Sarinta. Bujang Sarinta diceritakan adalah buaya yang ganas dan sebagai pembunuh manusia yang lewat di Sungai Kedang Kepala. Dia dianggap sebagai Raja Buaya. Karena bahaya, maka penduduk Sungai Mahakam yang akan pergi melewati daerah ini, selalu berdebar-debar dan khawatir serta termenung. Maka tempat itu dikenal dengan sebutan Ulah Pengong. Kata pengong berasal dari bahasa daerah Kutai Lengong yang berarti termenung-menung atau melengong. Sedangkan daerah yang tenang, tak jauh dari Istana Bujang Sarinta itu, sampai sekarang lebih dikenal dengan nama Kampung Carek Kain.

Kaitannya, pada suatu saat ada seorang hukuman dari kerajaan Kutai yang dibuang di daerah ini untuk mendapat hukuman buang ke tempat Raja Buaya, tujuannya agar sang terhukum itu melihat langsung Raja Buaya. Sebeleum terhukum menjalani hukuman, dengan menceburkan diri ke sungai, maka terlebih dahulu ia harus menyediakan labu air berwarna hitam dan di dalamnya diisi dengan berbagai ramuan beracun. Labu air itu kemudian dilemparkan ke sungai dan kemudian si terhukum menceburkan diri. Pada waktu labu diceburkan ke sungai, konon diceritakan, langsung diterkam oleh Bujang Sarinta. Dan barulah terhukum berhasil menyeberangi sungai yang deras dan dalam itu.

Selang beberapa waktu, masyarakat di sekitar Muara Ancalong, Muara Bengkal, dan Kampung Ngayau, mendatangi upacara. Di sana, orang-orang melakukan upacara berbentuk lingkaran dan ditengah-tengahnya berdiri dukun belian yang sedang asyik menari-nari. Sedangkan di tengah-tengah orang yang menari, ada seorang yang berbadan besar dan tinggi sedang sekarat dan disampingnya ada selongsong kulit buaya. Ternyata orang yang sekarat itu adalah Bujang Sarinta, yang menelan labu beracun. Cerita ini pun menjadi legenda dan diceritakan secara turun temurun.

Puan Tahun

Puan Tahun adalah cerita rakyat Suku Dayak Kenyah, menceritakan kehidupan suami dan istri yang mempunyai dua anak laki-laki. Setiap si anak minta makan, sang ibu bilang kalu padinya belum tumbuh dan belum panen. Suatu hari, sang ibu memasak nasi dan sudah matang, namun ketika dua anaknya minta makan, sang ibu malah menyuruh agar mereka mencari daun pisang di tengah hutan. Kedua anak itu melaksanakan perintah orang tuanya dengan pergi ke tengah hutan untuk mencari daun pisang. Namun, setelah sampai di hutan, mereka berjanji tidak akan pulang karena orang tuanya tidak menyayangi mereka.

Mereka tinggal di pohon jambu yang lebat buahnya, dan setiap hari makan buah jambu. Pada suatu hari, mereka melihat ada babi yang makan buah jambu mereka yang jatuh di tanah.Maka sang anak pun menusuk buah jambu berderet-deret di atas pisau raut yang mereka bawa dari rumah, dan dijatuhkannya ke tanah yang langsung disergap babi, maka babi itupun mati tertusuk pisau. Sang kakak pun memotong-motong babi dan mencari api untuk memasak babi itu. Namun, karena kesulitan mendapatkan api, maka mereka berhari-hari mencari api dan baru mendapatkannya di dalam sebuah rumah yang sepi. Mereka mencuri api dan dibawa pulang untuk memasak daging babi.

Setelah sebagian daging babi itu dimasak dan dimakan, tiba-tiba datang dua raksasa untuk memakan daging babi milik mereka. Karena takut, anak-anak ini pun memberi sisa daging babi itu. Setelah kedua raksasa itu pergi, maka kedua anak itu berjanji akan membunuh raksasa. Mereka pun mengintip ke rumah raksasa pada malam hari. Terdengar salah satu dari raksasa itu paling takut pada Hantu Ting Ting Uwit. Setelah mengetahui semua itu, maka kedua anak itu pun pada malam harinya menirukan bunyi hantu tadi, dank arena takut maka kedua raksasa itu dapat dibunuh oleh anak-anak itu.

Setelah raksasa mati, kedua kakak-beradik ini menempati rumah raksasa itu. Maka mereka pun berladang dan menanam padi. Mereka pun mendapatkan hasil panen yang melimpah dengan padi-padi yang tumbuh subur dan hasil panen yang baik.

Pada suatu hari, saat kedua anak ini akan memetik padi, datang perempuan tua yang bersedia membantunya. Mereka bertiga akhirnya memetik padi bersama. Berhari-hari mereka memetik, namun padi tidak habis-habis. Orang tua yang ikut membantu memetik padi adalah Puan Tahun, yang diyakini oleh Masyarakat Dayak sebagai penjaga tanaman padi. Sedangkan kedua anak itu adalah Semangat Padi, sehingga tidak mau berkumpul dengan kedua orang tua mereka yang berasal dari Hantu Haus. Oleh karena itu, sampai sekarang Masyarakat Dayak, khususnya di Pedalaman Sungai Mahakam, selalu melakukan upacara Puan Tahun.

Asal usul Raja Tunjung

Terdapat sebuah kerajaan bernama Pinang Sendawar yang dipimpin oleh pasangan manusia titisan roh halus bernama Aji Tulur Dijangkat dan Muk Bandar Bulan. Pasangan ini ingin menyerahkan kekuasaan kepada salah satu dari 4 orang anaknya. Agar tidak terjadi perebutan maka diadakan sayembara, yaitu siapapun yang dapat menyeberangi Sungai Mahakam sebanyak 7 kali dengan berenang sambil membawa gong, dialah yang pantas memimpin kerajaan Pinang Sendawar. Kemudian didapatkan 2 orang putra yang berhasil, yaitu Sualas Guna dan Aji Puncan Karna. Meskipun yang diharapkan memimpin adalah Aji Puncan Karna, namun yang diserahi jabatan saat itu adalah Sualas Guna, sedangkan Aji Puncan Karna diperintahkan untuk pergi ke kerajaan Kutai dan meminang adik dari Raja Kutai yang memiliki kesaktian dalam hal pengobatan untuk di bawa ke Pinang Sendawar.

Dalam perjalanan dari Pinang Sendawar menuju Kutai, Aji Puncan Karna bermimpi bertemu dengan roh halus yang dianggap Dewa pada waktu itu. Dalam mimpi itu Aji diberi pengetahuan tentang Kerajaan Kutai, diberi kesaktian dan diberi tahu taktik agar tujuannya berhasil. Setelah selesai pemberitahuan tersebut maka Aji pun terbangun. Oleh sebab itu, tempat bangunnya Aji dari mimpi keramat tersebut dinamakan Kota Bangun. Saat ini Kota Bangun menjadi kota yang sangat strategis di Kabupaten Kutai Kertanegara, berfungsi sebagai tempat transit untuk dapat menuju ke daerah-daerah yang lebih jauh dengan menggunakan transportasi air.

Perkawinan Aji Puncan Karna dari Dayak dengan Aji Dewa Putri dari Kutai

Kerajaan Kutai tiba-tiba kedatangan beberapa kapal-kapal besar beserta sekumpulan pasukan yang dipimpin oleh seseorang yang cacat fisik. Pemimpin tanpa tangan dan kaki tersebut ternyata adalah putra dari Kerajaan Pinang Sendawar yang bernama Aji Puncan Karna. Maksud kedatangannya adalah untuk berobat kepada adik dari Maharaja Kutai yang bernamaAji Dewa Putri. Setelah melewati proses upacara belian (pengobatan) selama 7 hari, Aji Puncan Karna pun berhasil disembuhkan dan tubuhnya menjadi utuh dengan tangan dan kaki. Kemudian Aji Puncan Karna mengutarakan maksudnya untuk melamar Aji Dewa Putri dan menyerahkan diri sekaligus pasukannya untuk mengabdi kepada Kerajaan Kutai. Lamaran tersebut diterima dengan suka cita oleh Maharaja Kutai, lalu diadakanlah upacara pernikahan yang sangat meriah selama 40 hari. Upacara tersebut diselenggarakan sesuai dengan adat kutai. Mengetahui kabar bahwa putranya menetap di Kerajaan Kutai, maka Aji Tulur Dijangkat dan Muk Bandar Bulan menjadi sedih dan menderita, lalu memutuskan untuk kembali ke khayangan dan menyerahkan kekuasaan sepenuhnya kepada putra pertama yaitu Sualas Guna. Untuk menghormati keputusan adiknya, maka Sualas Guna mengutus anggota keluarga untuk menjadi wali bagi Aji Puncan Karna dan memerintahkan rakyatnya untuk mendoakan pernikahan mereka.Pasangan ini kemudian hidup bahagia dan dikaruniai seorang anak bernama Seri Gembira.

Tradisi pernikahan adat kutai dengan segala bentuk ritualnya masih melekat dan dilaksanakan hingga saat ini, khususnya bagi keluarga keturunan kerajaan, meskipun mereka sudah tidak lagi berfungsi sebagai puncak pemerintahan ataupun pengambil keputusan bagi rakyat di Kab. Kutai Kertanegara. Pemerintah yang memimpin saat ini pun tetap menghargai keluarga kerajaan dengan memberikan lahan khusus bagi mereka sebagai tempat tinggal dan untuk tetap memelihara kebudayaan adat Kutai.

Cerita Sayus dan Siluq

Sayus adalah lelaki yang sangat kuat dan Siluq adalah wanita yang sangat sakti. Mereka adalah kakak beradik yang seringkali bertengkar, hingga suatu saat Siluq pergi meninggalkan rumah. Namun karena kasihan pada adiknya, Sayus pun pergi mencarinya untuk diajak pulang. Pada suatu saat, Sayus melihat Siluq berada diatas rakit yang sedang berlayar. Namun karena Sayus berada di daratan, maka beragam upaya di lakukan untuk menghentikan rakit tersebut dengan menggunakan kekuatan fisiknya. Namun segala upaya tersebut ternyata tidak berhasil, sehingga Sayus menjadi marah dan melampiaskan amarahnya kepada segala sesuatu yang ada disekitarnya.

Dampak dari usaha Sayus untuk menghentikan rakit adiknya dan dampak dari luapan kemarahannya karena merasa gagal mengembalikan adiknya menyisakan beberapa peninggalan tempat yang masih ada sampai saat ini.

Diketahui pula asal-usul binatang badak dari cerita ini, yaitu merupakan gabungan dari binatang lembu dan babi. Badak merupakan binatang berbadan besar menyerupai lembu, sedangkan ekor, kaki, muka dan taringnya seperti babi. Hal ini terjadi karena Siluq yang ingin membuktikan kesaktiannya dengan menghidupkan binatang hasil buruan kakaknya yang sudah mati. Namun ia bukan hanya menghidupkan kembali melainkan juga menggabungkan kedua binatang tersebut menjadi satu.

Terdapat riam-riam dan tanjung-tanjung di sekitar Sungai Jalau Kampung Lotak di daerah Bahau sebagai sisa dari tanggul-tanggul yang bangun oleh Sayus namun kemudian pecah pada bagian tengahnya oleh kesaktian Siluq. Bagian tanggul yang pecah kemudian menjadi riam-riam sedangkan bagian tanggul yang masih utuh saat ini menjadi tanjung.

Terdapat Gunung Batu Kerbong di bagian hulu Kampung Long Mahakam Kec. Long Bangun Kab. Kutai Barat sebagai dampak dari upaya Sayus yang menebang gunung untuk menutup sungai tempat adiknya berlayar. Pada kaki gunung tersebut masih terdapat hasil tebangan Sayus.

Terdapat lubang besar di daerah Gunung Lipan Kota Samarinda, sebagai bekas jatuhnya Sayus ketika berlari kencang mengejar rakit adiknya.

Terdapat tumbuhan nipah (biasanya digunakan sebagai atap rumah) yang hanya bisa ditemui di muara Sungai Mahakam, sebagai dampak dari upaya Sayus yang membuat bendungan lalu memperkuatnya dengan ditanami pohon nipah yang dicabutnya dari tepi-tepi Sungai Mahakam. Namun karena kesaktian Siluq, bendungan tersebut putus dan menyisakan delta di muara Sungai Mahakam.

Terdapat Pohon Benggeris Paling Sayus di Kampung Dasaq Kec. Muara Pahu Kab. Kutai Barat, sebagai dampak luapan amarah Sayus yaitu dengan membalik sebuah pohon benggeris sehingga puncaknya ditancapkan ke tanah dan akarnya berada di atas.

Terdapat koloni ikan tapah (ikan pari) di bagian Puruk Cahu, sebagai akibat dari ulah Sayus yang ingin membunuh ikan buas tersebut dengan cara memancingnya terlebih dahulu. Ketika kail pancingnya disambar, lalu Sayus menarik pancingnya dengan sekuat tenaga. Karena terlalu kuat tarikannya menyebabkan ikan tersebut terlempar dan jatuh di tempat yang sangat jauh yaitu di bagian Puruk Cahu yang merupakan daerah perbatasan Kalimantan Timur dengan Kalimantan Tengah.

Terdapat Batu Lembu di Kampung Mendika Kec. Damai Kab. Kutai Barat, sebagai dampak dari ulah Sayus yang ingin membunuh lembu hutan dengan menombaknya beberapa kali hingga mengenai tulang rusuk dan jangtungnya. Namun lembu tersebut masih dapat melarikan diri, tercebur ke sungai dan menjadi batu. Karena marahnya lalu Sayus memotong kepala lembu yang sudah membatu tersebut dan melemparkannya hingga jatuh di bagian Sungai Jawatan.

Gua Sarang Burung Lubang Undan

Merupakan kisah cinta segitiga antara Bang, Lawing dan Bulan. Mereka sudah bersahabat sejak kecil. Namun ketika Bang menikahi Bulan, muncul niat jahat Lawing untuk membunuh Bang dan menjadikan Bulan sebagai istrinya. Rencana pun disusun yaitu dengan mengajak Bang pergi ke Gua Lubang Undan untuk mencari sarang burung, kemudian meninggalkan Bang di dalam gua yang dalam dan gelap tersebut dengan harapan Bang akan mati dengan sendirinya karena tidak memiliki tali untuk naik kembali ke mulut gua, lalu bersandiwara kepada Bulan bahwa semua itu adalah kecelakaan dengan harapan bahwa Bulan dapat merelakan kepergian suaminya dan lama-kelamaan mau menerima cintanya. Rencana tersebut berjalan lancar dan Bulan pun mau menjadi istrinya. Namun Bang yang sebenarnya masih hidup karena diselamatkan oleh warga masyarakat lalu kembali dan menceritakan semua yang dialaminya. Karena masih saling mencintai namun tidak dapat menerima kenyataan, maka Bang dan Bulan bunuh diri dan berjanji akan hidup bahagia di alam baka. Sedangkan Lawing yang sudah sadar akan kesalahannya, juga melakukan bunuh diri untuk menebus dosa.

Cerita ini mengandung pesan agar jangan iri hati dengan kebahagiaan orang lain, serta bagi para istri agar tetap setia pada suaminya yang sedang bertugas untuk kebahagiaan rumah tangga.

Asal usul Raja Berau

Terdapat sepasang suami istri yang tinggal di Kampung Pattung Kec. Gunung Tabur Kab. Berau. Mereka hidup bersahaja, bahagia dan saling cinta selama puluhan tahun. Namun ada 1 hal yang menjadi masalah bagi mereka yaitu belum dikaruniai anak. Oleh sebab itu, mereka sering menjauhkan diri dari keramaian untuk bermeditasi dan berdoa agar memiliki penerus keturunan. Setelah sekian lama akhirnya doa itu terjawab juga, sang suami mendapatkan seorang bayi laki-laki yang berada di balik pohon bambu ketika sedang mencari hasil hutan. Demikian pula sang istri mendapati seorang bayi perempuan berada di dalam gentong tempat ia menaruh perlengkangpan menjahit. Semenjak kehadiran kedua bayi yang didapatkan dengan cara yang tidak biasa tersebut, kampung Pattung seolah mendapat anugerah, karena kedua anak itu ternyata membawa berkah, terbukti dari hasil ladang yang makin bertambah dan dan hasil hutan pun semakin melimpah.

Setelah mereka dewasa, petinggi-petinggi kampung memutuskan untuk menjodohkan dan mengangkat mereka menjadi raja. Kemudian diadakan upacara pernikahan yang sangat meriah sekaligus sebagai acara peresmian pengangkatan raja baru di daerah tersebut dan ditutup dengan kegiatan membuka hutan sebagai lahan baru bagi kampung tersebut. Akhirnya terbentuklah suatu kerajaan baru yang bernama Kerajaan Kuran dengan rajanya yang bernama Raja Kuran, sebagai raja pertama di Kabupaten Berau.

Kenik Berau Sanipah

Kenik Berau Sanipah adalah seorang wanita cerdas, cantik dan berbudi luhur yang merupakan putri dari seorang raja yang terkenal sakti dan kaya raya, yaitu Rangga Batara sebagai pemimpin Kerajaan Sapinggan yang terletak di muara Sungai Suaran Kec. Sembaliung Kab. Berau.

Suatu saat Kerajaan Sapinggan diserang oleh armada angkatan laut yang sangat besar, sehingga pasukan Kerajaan Sapinggan kewalahan menghadapinya. Hal ini menyebabkan sang raja murka dan turun langsung ke medan pertempuran. Berkat kesaktiannya, beberapa armada musuh tenggelam dan sisanya melarikan diri. Terdapat 2 dari sejumlah armada yang tenggelam tersebut menjadi pulau yang kini dinamakan Pulau Ajung karena bentuknya menyerupai ajung (kapal).

Pada waktu yang lain, Kerajaan Sapinggan dilanda bencana, yaitu diserang oleh jutaan ikan julung-julung atau tembilawang (jenis ikan berkepala runcing yang menyerupai tombak). Sang raja memerintahkan agar serangan tersebut dibendung oleh manusia sebagai pagar, sehingga banyak masyarakat yang menjadi korban. Melihat keadaan tersebut, Kenik Berau Sanipah memerintahkan menebang pohon-pohon pisang untuk dijadikan pagar, lalu ikan-ikan yang menancap di batang-batang pisang tersebut dengan mudah dapat dilumpuhkan. Namun hal ini membuat sang raja murka, karena khawatir kecerdasan putrinya berdampak negatif terhadap citranya sebagai pemimpin kerajaan. Kemudian dengan kesaktiannya pula, sang raja mengutuk putrinya menjadi batu. Kejadian ini menjadi jawaban atas keberadaan sebuah patung wanita telanjang di dekat lubang sarang burung yang bernama Luang Patallak, yang terletak di hulu Sungai Suaran Kab. Berau. Hingga saat ini, tiap orang yang melewati wilayah tersebut akan mendekati patung dan mohon doa restu agar diselamatkan selama perjalanan dan terhindar dari bahaya.

Lamin Talunsur

Lamin Talunsur (rumah tenggelam), pada awalnya merupakan sebuah kampung di tepi Sungai Segah Kabupaten Berau. Kampung ini ditinggali oleh kelompok masyarakat yang masih memegang erat tradisi dan kepercayaan, termasuk pula menghindari gali (pantangan).

Pada suatu saat, dua orang anak dalam keadaan hidup. Ketika berada dalam kobaran api, ikan itu terus menggelepar dan kedua anak pun tertawa senang melihat penderitaan makhluk tak berdaya itu. Namun ikan tersebut secara perlahan bertambah besar hingga cukup kuat untuk melepaskan diri dari ikatan tali serta keluar dari kobaran api. Semakin besar ukuran ikan itu sampai gerakannya menyebabkan kampung terguncang (gempa). Kemudian ikan tersebut menceburkan diri ke sungai namun kampung itu terbawa turun dan akhirnya tenggelam ke dasar sungai bersama ikan.

Menurut kepercayaan masyarakat, anak tersebut telah nyaruan (melanggar pantangan) karena berani melakukan hal yang dilarang oleh adat. Oleh sebab itu, cerita ini sering diceritakan kepada anak-anak agar mereka tidak berani melakukan apapun yang dilarang oleh orang tua.

Baddil Kuning

Baddil Kuning (senapan berwarna kuning keemasan) merupakan benda pusaka yang membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi Kesultanan Gunung Tabur Kab. Berau, sampai akhir masa kepemimpinan raja yang berkuasa pada saat itu.

Ditemukan oleh seseorang yang sedang mendayung perahunya di Sungai Segah Kab. Berau. Benda tersebut dianggap keramat dan sakti karena ditemukan dalam keadaan mengapung dan bergerak melawan arus air, padahal terbuat dari logam. Karena kesaktiannya, hingga banyak kerajaan lain yang ingin merebutnya. Pada suatu saat Kesultanan Gunung Tabur diserang oleh bangsa pelaut dan mereka berhasil membawa Baddil Kuning sekaligus menawan Raja Gunung Tabur. Hal ini terjadi karena sang raja sengaja tidak melawan agar rakyatnya tidak menjadi korban dan memilih untuk ikut ditawan bersama Baddil Kuning. Sesampainya di wilayah lawan, benda keramat tersebut ternyata akan dilelang. Mendengar kabar ini, Raja Gunung Tabur menjadi marah dan mengacaukan acara lelang tersebut dengan merusak segala benda-benda dan bangunan fisik yang ada disekitar tempat pelelangan, termasuk mencabut tiang Masjid kerajaan hingga Masjid menjadi miring dan melemparkan meriam-meriam kerajaan dengan tiang tersebut. Menyaksikan kekuatan dan kesaktian sang raja, maka bangsa pelaut pun menjadi takut dan mengajukan perdamaian. Akhirnya sang raja dipulangkan bersama Baddil Kuning.

Sampai saat ini, kuburan sang baginda masih terpelihara dan dianggap keramat bagi masyarakat.

Ranggam Tutup Burung Keramat

Pada suatu saat, di pedalaman Kalimantan terjadi krisis ekonomi yang disebabkan produksi bahan makanan jauh berkurang. Oleh sebab itu bangsa binatang mengadakan rapat yang dipimpin oleh pelanduk dan dihadiri oleh beberapa ahli. Menurut ahli nujum (dukun) berdasarkan ilmu kebatinan, untuk mengakhiri masa krisis tersebut ialah dengan mendatangkan seekor burung keramat. Cara mendapatkannya yaitu dengan mengambil telurnya dan mengerami telur tersebut hingga menetas dengan sendirinya. Pada pelaksanaannya, yang berperan dalam melakukan misi trersebut adalah kupu-kupu, tupai dan burung ketinjau/murai. Akhirnya setelah telur menetas dan burung keramat tersebut dapat berkicau, maka sejak itu tanaman menjadi subur dan krisis ekonomi pun berakhir.

Kupu – kupu bersedia mengambil telur karena ia diperbolehkan menjadi pihak pertama yang mencicipi tanaman jika krisis sudah berakhir. Tupai bersedia mengantar telur ke atas pohon untuk dierami karena ia diperbolehkan menjadi pihak kedua yang mencicipi tanaman jika krisis sudah berakhir. Itulah sebabnya mengapa hingga saat ini kupu – kupulah yang pertama mencicipi bunga lalu tupai yang memakan buahnya. Sedangkan burung ketinjau/murai yang berperan mengerami telur tersebut selama berbulan-bulan, menyebabkan kakinya menjadi pincang. Itulah sebabnya mengapa hingga saat ini, burung ketinjau/murai berjalan dengan cara melompat-lompat.

Burung keramat tersebut bernama Ranggam Tutup (burung perkutut), merupakan nama jenis burung yang dianggap keramat dalam hal mendatangkan kesuburan pada tanaman. Kepercayaan ini kemudian diwujudkan dalam bentuk upacara adat Ranggam Tutup yang dilaksanakan pada saat selesai masa panen, sebagai peresmian bahwa semua padi yang telah dihasilkan (menurut adat) boleh untuk di konsumsi.

Raden Baroh

Raden Baroh adalah pemimpin Kerajaan di Muara Pahu Kab. Kutai Kertanegara. Pada suatu saat, Raden Baroh ingin merenovasi lamin yang menjadi istananya, sehingga seluruh rakyat diperintahkan untuk ikut serta dalam pembangunan tersebut. Namun satu orang yang bernama Ayus meminta izin untuk menunaikan urusan pribadinya terlebih dahulu, sehingga upacara sebelum mendirikan lamin ditunda sampai waktu yang disepakati oleh Ayus. Namun hingga waktu tersebut, Ayus belum juga kembali, sehingga upacara segera dilakukan tanpa kehadiran Ayus. Ketika Ayus telah tiba, upacara tersebut telah selesai sehingga Ayus menjadi marah karena merasa tidak dihargai. Untuk melampiaskannya, maka Ayus menculik anak tunggal Raden Baroh, mambunuhnya dan melarikan diri hingga pasukan Raden Baroh tidak dapat menemukannya. Mengetahui kenyataan bahwa penerus satu-satunya telah tiada, maka Raden Baroh jatuh sakit. Pada akhirnya Kerajaan Raden Baroh di Muara Pahu menyerahkan kekuasannya kepada Kerajaan Kutai yang pada saat itu dipimpin oleh Maharaja Sakti. Setelah urusan serah terima kekuasaan selesai dilakukan, akhirnya Raden Baroh meninggal dengan tenang.

Syair (Puisi dan Pantun)

Puisi adalah hasil karya seni sastra berupa rangkaian kata-kata yang memiliki makna tertentu sesuai dengan tema yang diangkat, serta mengandung unsur keindahan/seni. Pada konteks adat budaya Kalimantan Timur, puisi tidak hanya berupa rangkaian kata-kata sebagai ungkapan perasaan sang seniman, namun puisi juga memiliki fungsi dan peran tertentu, dibacakan pada saat-saat tertentu dengan metode atau mekanisme penyampaian atau upacara adat/ritual yang tertentu pula. Adapun beberapa pusi yang terdapat di Propinsi Kalimantan Timur adalah sebagai berikut :

Puisi.png

Pantun adalah suatu bentuk seni sastra berupa rangkaian kalimat bersajak yang terdiri dari dua bait, yaitu bait pembuka dan bait isi/inti dan tiap bait terdiri dari dua baris. Pantun bersifat lebih fleksibel daripada puisi, saluka ataupun karang-karangan, karena strukturnya yang lebih singkat dan penggunaannya pun dapat dilakukan pada saat kapan saja. Oleh sebab itu, terdapat penggolongan beberapa jenis pantun berdasarkan isinya, yaitu :

  • Pantun nasehat, digunakan oleh orang tua kepada anaknya yang berisi pesan-pesan terkait dengan etika dan norma kesopanan,
  • Pantun dagang, digunakan sebagai pembuka ataupun penutup pertemuan bisnis.
  • Pantun pergaulan, digunakan oleh muda-mudi dalam bercengkrama ataupun untuk merayu pasangan,
  • Pantun nasib, digunakan pada saat baru bertemu seseorang ataupun hendak berpisah,
  • Pantun agama, digunakan untuk saling mengingatkan tentang ajaran agama.

Seni puisi dan pantun dominan dimiliki oleh Suku Dayak Benuaq, berikut ini adalah jenis-jenis seni syair yang teerdapat di Suku Dayak Benuaq.

Rijoq
Rijoq adalah bentuk pantun yang terdiri dari tiga baris (tiga kerat) yang mengandung nilai sastra yang biasa dilantunkan dengan irama lagu yang khas. Irama dan lagu dapat bermacam-macam versi sesuai selera pelantun, sehingga menjadi unik tampilannya. Bahkan ada beberapa versi lagu yang seolah-olah mengubah pantun yang tiga kerat itu seolah-olah menjadi pantun empat baris, tanpa mengubah sedikitpun syair-syairnya. Rijoq umumnya adalah lagu dolanan dan sering juga ditampilkan seperti berbalas pantun. Maknanyapun mendalam, karena pelantunnya biasanya memilih syair-syair yang bermakna.
Contoh: Lulu lalin kalak, Belen sengkelain lou, Eso dingan kokok piak (Artinya: meskipun berbeda kediaman, sesungguhnya masih kerabat dekat)

Loaak
Loaak adalah puisi bebas tidakk terkait dengan baris. Lagunya relative tidak berubah dan memang sulit untuk diganti dengan versi yang lain, bernilai sastra cukup tinggi, dan bisa digunakan dalam acara berbalas pantun.

Perentangin
Perentangin adalah seni suara yang menceritakan pernak-pernik pengalaman pribadi yang pernah bepergian jauh atau mengalami hal-hal unik, suka dan duka.

Lengot
Lengot adalah seni suara dan seni sastra yang bernilai sastra sangat tinggi. Sebab, pada akhir setiap bait, pelantun memukul-mukul gendang dan diiringi dengan sahutan sorak sorai penikmat atau penontonnya. Seni suara jenis ini menggunakan ibarat atau perumpamaan dalam menyampaikan maksudnya. Binatang dan tumbuhan yang disebutkan biasanya diberi gelar atau nama julukan masing-masing.

Akey
Kurang lebih sama dengan lengot, hanya saja akey digunakan pada momen khusus sebagai salah satu ritus dari upacara adat kematian atay disebut kuwangkey sehingga meskipun cara penyampaian maksudnya sama dengan menggunakan sastra dan pelukisan yang sama, khusus berorientasi seputar kematian. Pada akhir bait-baitnya tidak membunyikan gendang, hanya disahut sorak sorai penonton.

Rarikng
Rarikng sebenernya adalah tangis sedih ketika ada anggota keluarga yang meninggal. Biasanya dilakukan oleh kaum perempuan dan kebanyakan ibu-ibu. Tangis yang disebut Rarikng melantunkan syair-syair duka cita dengan lagu yang khas, karena sedih teringat yang meninggal dunia itu saat masih hidup. Tangisan seperti itu meskipun memakan waktu yang tidak sama antara satu dengan lainnya, tetapi ada yang menghabiskan waktu hingga lebih dari satu jam. Saat nafas sudah terkuras maka berhenti sejenak dibarengi dengan air mata dengan isakan tangis.

Tinga Belietn
Tinga Belietn adalah lagu-lagu yang dipergunakan dalam ritual penyembuhan oleh pawang penyembuhan. Ritual penyembuhan itu disebut belieth dan pawang penyembuhan disebut pemeliethn. Sedangkan tinga adalah lagu atau tembang. Pada ritual penyembuhan biasanya pawang membuka ritual dengan melantunkan lagu untuk memberi tahu para dewa penyembuh agar hadir dalam ritual.
Setelah itu, pawang menari dengan diiringi bunyi alat-alat tradisional. Kemudian tari dan music dihentikan, dilanjutkan dengan pawang yang bernyanyi-nyanyi lagi. Begitu seterusnya. Selain syair-syair yang memanggil roh para dewa, ada juga lagu-lagu yang berisi syair yang meriwayatkan hewan dan tumbuh-tumbuhan yang digunakan dalam ritual itu. Pembacaan syair-syair dan lagu ini berlangsung dari pagi sampai malam dan diteruskan pagi hari lagi dalam waktu berpuluh-puluh hari.

Tinga Waraa
Tinga Waraa adalah lagu yang dilantunkan oleh pawang (pengewara) dalam upacara adat kematian. Tinga Waraa atau  nyanyian yang dilantunkan selama berpuluh-puluh hari sepanjang upacara adat kematian (upacara kuwangkey) itu dapat berubah-ubah sesuai dinamika ritus-ritus yang telah ditetapkan dalam upacara tersebut.
Syair-syairnya kebanyakan menuturkan dan meriwayatkan asal-usul segala yang ada di bumi. Terutama terhadap segala sesuatu yang terkait dengan upacara. Syair berisi tentang peringatan, petunjuk, nasehat, dan pesan-pesan kepada keluarga dan kaum kerabat yang ditinggal mati saudaranya. Meskipun lagunga berubah-ubah, bentuk puisinya hamper selalu tetap.

Tinga Santangih
Tinga Santangih kurang lebih mirip dengan tinga waraa, yakni lagu atau nyanyian dan syair khusus pada upacara adat kematian. Bentuk dan isi puisinya hampir sama, yang membedakan hanyalah tempo lagu lebih lambat, lembut, dan monoton.

Tri Lelee
Tri Lelee adalah seni suara berbentuk sorak sorai yang ditampilkan hanya sebagai ungkapan kegembiraan pada upacara adat suka cita.

Saluka

Saluka adalah suatu bentuk seni sastra berupa kalimat yang konotatif, yaitu tidak langsung mengenai sasaran, namun memiliki makna tertentu sesuai dengan kondisi yang mengiringi, serta mengandung unsur sindiran kepada pihak tertentu yang menjadi sasaran. Saluka tidak memiliki batasan kalimat seperti halnya puisi, karang-karangan ataupun pantun yang biasanya terdiri dari empat baris dan harus bersajak. Kalimat ungkapan berupa saluka dapat diucapkan dengan dua cara, yaitu :

  • Pengungkapan langsung kepada sasaran,
  • Pengungkapan kepada pihak lain terlebih dahulu, namun akan diperdengarkan kepada pihak sasaran agar merasa tersindir.

Berdasarkan definisinya, maka bentuk seni sastra saluka berkaitan erat dengan komunikasi antar manusia, baik itu dalam hubungan pergaulan, hubungan bisnis maupun hubungan keluarga. Pada kondisi tertentu, jika hubungan yang dimaksud mengalami kesenjangan karena suatu masalah dan karena tidak adanya keterbukaan antar pihak, maka saluka dapat menjadi kalimat pembuka percakapan yang lebih efektif dan produktif daripada kalimat yang bersifat langsung (denotatif).

Karang-Karangan

Seni sastra karang – karangan adalah suatu bentuk seni sastra yang berupa kumpulan paragraf yang tiap paragrafnya terdiri dari empat baris kalimat bersajak dan isinya saling berhubungan. Karang – karangan digunakan pada penyelenggaraan sebuah acara dan dibacakan oleh pembawa acara. Karang – karangan dibacakan pada saat pembukaan acara, jeda antar kegiatan dan penutup acara. Adapun hal-hal yang menjadi isi dari seni sastra karang – karangan adalah sebagai berikut :

  • Ringkasan mengenai proses kegiatan (acara) yang akan berlangsung,
  • Ungkapan pujian dan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu keberlangsungan acara tersebut,
  • Doa dan harapan yang ingin dicapai atas keberlangsungan acara tersebut.

Bagi pihak-pihak yang disebutkan namanya dalam kalimat karang – karangan, akan maju dan memberikan tips kepada pembaca. Inilah cara mereka menghargai pihak pembuat dan pembaca karang – karangan tersebut.

Sumber:

  • Taman Budaya Kalimantan Timur. (1976) Kumpulan Naskah Kesenian Tradisional Kaltim. Samarinda: Taman Budaya Kalimantan Timur.

Komentar

Leave a Reply



(Your email will not be publicly displayed.)



Posted by:

Share: