Tellasan Topak

Lokasi : Semua Kabupaten di Pulau Madura
Jadwal : 7 hari setelah hari raya Idul Fitri (Lebaran Ketupat)

Tellasan topak atau biasa disebut dengan lebaran ketupat yang merupakan puncak perayaan Idul Fitri. Tellasan topak biasanya dirayakan seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Event ini dirayakan dengan berbagai macam kegiatan seperti mengunjungi objek wisata, saling mengantar makanan khas yaitu ketupat kepada sanak saudara dan tetangga, tradisi naik perahu, dan lain-lain.

Suasana keceriaan dalam menyambut Tellasan Topak lebih meriah daripada Lebaran Idul Fitri, oleh karena itu banyak orang menyebutkan bahwa Lebaran Ketupat adalah lebaran masyarakat Pulau Madura. Setiap daerah di Pulau Madura memiliki cara tersendiri dalam merayakan Tellasan Topak. Di Bangkalan, beberapa lokasi wisata pada umumnya dipadati warga, sedangkan tradisi Lomban di Kamal masih tetap terjaga. Masyarakat Bangkalan memiliki tradisi turun temurun yang masih terjaga hingga kini. Yakni saling antar ketupat dan lepet kepada tetangganya. Usai berlebaran, masyarakat berekreasi. Di Kamal, masyarakat setempat menggelar tradisi naik perahu mengitari perairan Kamal. Tradisi ini disebut dengan lomban. Biasanya, pemilik mengiasi perahunya dengan umbul-umbul warna warni. Di antara tiang perahu digantungi berbagai makanan khas tellasan topak.

Berbagai tradisi unik dilakukan warga Sampang saat Tellasan Topa'. Di Desa Dharma Tanjung, Kecamatan Camplong pada saat Tellasan Topak suasana kampung pesisir tersebut berubah menjadi lebih semarak. Hampir seluruh warganya berdiri di pinggir jalan dengan baju barunya. Tidak hanya anak kecil, para remaja, bahkan ibu-ibu juga tidak ketinggalan. Sebagian di antara mereka ada yang hanya sekadar nongkrong di teras rumah, bahkan ada yang berbondong-bondong naik andong. Menaiki andong saat Tellasan Topa' merupakan bagian dari tradisi warga setempat yang terjaga dari masa ke masa. Tradisi unik tersebut bahkan kabarnya tidak hanya dimiliki warga Desa Tanjung. Namun berjabat erat dengan kebiasaan warga Desa Bandaran, Pamekasan. Kebetulan, kedua tetangga desa ini merupakan pemisah antara teritorial Pamekasan dan Sampang. Maksud dan tujuan naik andong adalah untuk menjalin tali silaturahmi saat Lebaran yang dilakukan oleh warga Desa Tanjung dan Desa Bandaran yang kebetulan memiliki hubungan kekerabatan. Namun seiring berjalannya waktu tradisi tersebut kini telah berubah makna. Naik andong yang menjadi ajang untuk mengikat tali silaturahmi mengalami peralihan makna menjadi ajang pamer baju baru atau perhiasan.

Lain halnya dengan masyarakat yang tinggal di Kelurahan Banyuanyar, Kota Sampang. Meski masih tergolong daerah pinggiran kota, namun warga Banyuanyar memilki tradisi unik saat menyambut Tellasan Topak. Tidak hanya warga yang menikmati makna Tellasan Topa'. Tetapi juga sejumlah hewan ternak seperti sapi dan kambing juga turut merayakan. Beberapa kambing milik warga setempat sengaja dilepas dan dibiarkan keluar kandang menggunakan kalung ketupat.

Sumber :

Kabar Madura, 2008.

Komentar

Leave a Reply



(Your email will not be publicly displayed.)



Posted by:

Share: